Alam Ibu Sud dan Alam Rozensky

oleh Fajar M. Fitrah

"Manusia Setengah Harapan", drawing pen on paper by Ridwan S. Iwonk

Dalam dunia musik, bukan hal baru ketika sebuah lagu mengadopsi material alam, baik sebagai gagasan, tema, maupun atribut lirik belaka. Itu karena lagu, umumnya bentuk karya, yang fungsinya tidak lepas dari unsur mimetik. Tiruan dari alam sekitar, citraan lingkungan dan society si pencipta, bahkan sebentuk cermin refleksi sekalipun utopis.

Schopenhauer, lantang dan didaktis, berpendapat bahwa seni musik adalah melodi yang syairnya berasal dari alam. Filsuf jerman itu memang tak semelodis nalar Amadeus atau intuisi Beethoven. Tapi yang menarik, ia menerapkan juga das Ding an sich pada penilaiannya terhadap seni musik, atau sebut saja, lagu yang baik.

Lagu yang baik, umumnya orang mengamini, adalah yang pesannya sampai. Pemilihan instrumen pas, komposisi nada bikin terngiang di ingatan, dan lirik yang mudah. Lirik mudah di sini, bisa dimaknai sebagai pemilihan tema kontekstual sehingga dekat untuk dibayangkan pendengar dan penggunaan gaya bahasa yang orisinal atau tak obskur.

Berangkat dari itu, lagu tentang alam, tentunya, punya kadar keberterimaan lebih tinggi dibanding lagu cinta dan perlawanan. Lagu tentang alam akan lebih ramai dihayati pendengar karena, seperti yang tersirat pada cetus Schopenhauer, pengetahuan manusia terbatas pada bidang dan fenomena yang nampak.

Pertanyaannya, di tengah lautan kuantitas lagu tentang alam, yang seperti apakah yang biasa muncul ke permukaan?

Jawabannya simple, tentunya lagu tentang alam yang tak biasa. Tak biasa bukan berarti dibebani narasi besar sehingga menjadi kasar dan miskin imajinasi. Tak biasa bukan sebab liriknya divermak habis metafora yang kadang serampangan tanpa landasan. Tak biasa karena sederhana namun dalam.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah yang sederhana namun dalam itu?

*

Sebagai penggiat sastra dan musik, pertamakali saya diperdengarkan lagu tentang alam sewaktu TK. Bagi kanak 90an, atau bahkan generasi sebelumnya, pasti tak asing dengan “Naik-naik ke Puncang Gunung”. 

Naik, naik ke puncak gunung/ Tinggi, tinggi sekali/ Naik, naik ke puncak gunung/ Tinggi, tinggi sekali// Kiri, kanan, kulihat saja/ Banyak pohon cemara/ Kiri, kanan, kulihat saja/ Banyak pohon cemara.

Pada lagu ciptaan Saridjah Niung itu, sekilas, pesan yang tertangkap hanya tentang tamasya sejuk dan riang. Hijau dan kekanak-kanakkan. Kata demi kata dikenali, keseluruhan bait mudah dipahami. Tak ada metafora, simile, personifikasi, dan hiperbola. 4 majas yang tanpa disadari suka hadir di lagu-lagu kanak.

Saridjah Niung, atau akrab disapa Bu Sud, sewaktu mencipta, mungkin sekadar menghibur. Hanya supaya. Asumsi itu berIaku jika ditinjau keluputannya mengabsen isotopi pegunungan, semisal kicau burung, kabut, hawa dingin, desir angin, patahan ranting, biji pinus berserak, aroma tanah, wangi damar, gemericik sungai, dan sebagainya. Ia tak detail, atau memang ia sengaja demikian lantaran lagu diperuntukkan kanak. Ia mau sederhana. Maka di-highlight-nya 1 objek: pohon cemara. Pohon yang sebenarnya lazim merindang di trotoar jalan.

Awalnya, mungkin seperti itu. Ibu Sud enggan menancap tendensi. Tak berniat menyisip pesan kontradiktif atau mempolitisasi citraan gunung di khayalan kanak-kanak. Tetapi, meminjam penggalan “Derai-derai Cemara” milik Chairil, saya sudah berapa waktu bukan kanak lagi, tapi dulu memang ada suatu bahan, yang bukan dasar perhitungan kini. Setelah TK, saya mesti punya perhitungan yang diperbarui, termasuk manakala menggeledah karya. Saya (sambil berujar kepada diri sendiri) harus tergolong pendengar jeli.

Pendengar yang jeli termasuk apresiator. Dalam hal ini, apresiator bukan penikmat lalu atau cuma tukang cover lagu. apperciation/to appreciate, sebagaimana uraian Aminuddin dalam Seni Kritik Seni, adalah proses penghargaan, untuk menilai dan mengerti. Maka, bukan berarti so’ bijak atau lupa etika ketika menolak mentah-mentah dan menaruh curiga. Saya teliti setiap kata, berasosiasi, menyandingkan dengan referensi tubuh, berupa pengalaman pribadi, dan referensi previles, berupa hasil bacaan dan observasi fenomena sosial.

Saya berkesimpulan, “Naik-naik ke Puncak Gunung” mengandung kedalaman makna. Saya menyadari itu atas dasar kerja interpretasi pribadi. Setelah memutarnya berulang-ulang, ternyata rangkaian larik yang terlampau sederhana itu justru menghadirkan beberapa patah tanya yang menuntut perenungan: Mengapa naik ke puncak bukan turun? Seberapa tinggi atau mengapa mesti ‘tinggi sekali’? Mengapa, yang ditulis, banyak pohon cemara?

Ketika menyanyikan lagu tersebut, tanpa disadari, saya dipakaikan sudut pandang orang kota. Larik naik ke puncak gunung kentara dengan remaja urban yang mau vakansi. Semisal pada ajakan verbal: liburan muncak yuk?. Cakap semacam itu jelas milik orang yang bukan tinggal di gunung. Tentunya, sebagian besar masyarakat yang tinggal di bawah gunung adalah orang-orang perkotaan.

Lalu frasa tinggi sekali dan banyak pohon cemara adalah bentuk pars pro toto, menyebut sebagian untuk membilang keseluruhan, yang mengandung ironi. Saat ini, identitas tinggi sekali untuk gunung mungkin teringkari. Sebagai contoh, kalau tidak diserang hawa dingin, kadang pelancong tidak merasa kalau sedang ada di gunung (Puntang, Ciwidey, Lembang, atau Parongpong). Itu karena jarak tempuh ke dataran tinggi sudah lebih ringan: mudah diakses kendaraan, aspalnya nyaman, dan tentunya, atas nama pembangunan, resort atau wahana destinasi, tak sedikit huma dan hutan dikorbankan.

Setidaknya, bagi saya, “Naik-naik ke Puncak Gunung” adalah lagu tentang alam yang tidak biasa. Selain karena nadanya yang easy (mudah dibuat choir) menyimpan pesan dan kesan saat digali, lagu tersebut seperti juga figura romantisme alam dahulu. Semacam potret alam yang asri dan rimbun, yang jernih dan belum ditanami aneka kepentingan swasta, yang barangkali Ibu Sud kenal ketika mencipta. Di sisi lain, lagu tersebut juga menyinggung kepedulian manusia pada kelestarian hutan.

Berbicara kepedulian manusia terhadap hutan, banyak lagu yang berusaha merepresentasikannya, baik secara imperatif maupun persuasif. “Lebam Semesta” adalah satu dari banyak lagu yang mengandung spirit demikian. Bagi saya, lagu karya Rozensky itu, menjadi penting untuk diapresiasi. Menjadi penting karena lagu tentang alam yang tak biasa, meski tak sesederhana citraan Bu Sud.

*

Hampir magrib ketika saya sampai di Jayagiri. Lelah perjalanan terbayar hela napas yang jadi ringan. Memasuki arena yang memanjakan paru-paru, suhu udara belum curam dan angin semilir berkelindan, beberapa orang nampak sudah mendirikan tenda, menyeduh kopi dan melingkar di dekat panggung yang tak ada. Di situ, tersaji seperangkat sound, beberapa meter dari kerangka perahu kayu yang jadi backgoround, spot tanpa stage. Lalu, kumandang MC memulai pertunjukan malam.

Konser Pejalan jilid 2 berlangsung. Saya sengaja ngampar paling depan bersama Nana, gitaris Bob Anwar, saat Rozensky dipanggil. 3 orang personil berdiri menghadap penonton dan cukup lama cek sound. 1 lincah memetik gitar, 1 khusyuk menggesek cello, dan 1 bernyanyi penuh ekspresi. 

Seusai lagu kedua, sambil menghabiskan gema tepuktangan, mereka memanjang jeda. Beberapa detik kemudian, Ovick, si vokalis, menarik napas dalam-dalam dan kembali memasang tampang serius. Nyinyir sebenarnya. Entah berkhotbah atau menyumpah, ia menyuarakan keresah akan ruang hijau, reboisasi yang lumpuh, kerusakan lingkungan, penebangan gelap, pemerintah tak acuh, kelalaian manusia, dan bencana alam yang harus diterima. Jika itu sekapur sirih untuk penonton, demi ambience dan sugesti lagunya, saya menerima dengan cukup.

Beberapa detik kemudian, ia sebutkan judul yang parau, “Lebam Semesta”.

/jika saja alam semesta bertanya kepada manusia/untuk apa tujuan hidupmu// jika saja alam semesta bertanya kepada manusia/ kenapa engkau merusakku// jika saja alam semesta bertanya kepada manusia/ sampai kapankah waktumu untuk tidak merusakku//

/ketika alam semesta bertanya kepada manusia/ kenapa engkau merusak hidupku// ketika alam semesta bertanya kepada manusia/ bagaimanakah engkau membenciku//

/seandainya alam semesta bisa bicara kepada manusia/ mungkin ia akan bertanya dan bertanya// seandainya alam semesta bisa bicara kepada manusia/ mungkin ia akan bertanya dan berteriak/ anjing dan goblok!

Pada larik akhir saya kaget, terbahak sekaligus meringis di tengah ketakjuban penonton. Klimaks yang mengajak saya turut meledak, setelah hanyut dalam dawai syahdu dan larik-larik yang membisikkan ketidakberdayaan. 2 diksi barbar ‘anjing’ dan ‘goblog’ memang punya andil besar. Ketepatan yang sarkas itu begitu menegaskan maksud lagu pada saya. Ya, suara kemarahan. Sebentuk amuk terpendam, terlalu lama dibungkam, berkobar-kobar dalam kesunyian.

 

Berbeda dengan lagu Bu Sud yang memungkinkan untuk digali lebih detail, “Lebam Semesta“ dengan sendirinya mengantar pesan, terkesan kasar namun menghiba, kepada pendengar. Tanpa ragu, pendengar akan bisa menyebutkan apa isi lagu tersebut meski 1 kali diputar. Bila ditilik dari material lirik tentang alam, bisa dikatakan lagu tersebut kurang kaya. Bahkan, lebih irit dari Bu Sud. “Lebam Semesta” tak punya isotopi alam kecuali frasa alam semesta yang berulang-ulang.

Namun bukan berarti lagu tersebut tidak menarik. Bagi saya, justru sebaliknya.

Pada lagu tersebut, terdapat alam semesta bertanya dan bicara, sebaris klausa khayali yang berulang. Teknik semacam itu, dalam penulisan puisi, biasanya digunakan untuk mempertegas maksud si penulis kepada pembaca. Mungkin jika sekali disebut, klausa tersebut memang tak spesial. Atau jadi ujar yang klise. Apa bedanya dengan lirik Doel Sumbang, kalau bulan bisa ngomong atau, andaikan bulan andaikan bintang mereka saling berbisik, lirik yang sebenarnya lugu dan ingin saya lupakan.

Repetisi dari klausa tersebut, tanpa disadari, terngiang-ngiang, mendenyutkan kerja nalar saya. Diktum yang jenuh macam itu memang terbilang ampuh, semisal anjuran (yang sebenarnya belenggu) rezim otoriter yang mendikte rutinitas massa, dan laku yang berulang berpotensi melahirkan trans, seperti yang dikoarkan Camus dalam The Myth of Sisyphus. Ya, klausa tersebut sukses mendobrak logika saya, membikin bulu kuduk bangkit. Diam-diam saya terbawa fantasi kelam, di mana alam semesta benar-benar menegur dan menyeringai.

Setelah alam semesta itu mewujud dengan lian, maka selanjutnya ia menyudutkan saya dengan pelbagai tanya, persis seperti yang Ovick suarakan. Saya pun merasa terkecam. Sekalipun saya bukan pelaku penebang liar dan pebisnis yang menganiaya hutan, saya termasuk golongan pelupa. Saya suka lupa bahwa saya hidup dalam ekosistem. Saya lupa kalau saya terlibat simbiosis dengan alam. Saya tak peduli, jika sawah dan kebun di kampung dibabat habis untuk pertokoan.

Penganalogian yang memunculkan impresi itu, saya pikir berasal dari alam semesta yang berupa pars totem pro parte. Majas itu bertujuan menyebutkan bagian besar untuk mewakili sebagian atau menyatakan objek-objek lain yang lebih luas, yang terkandung di dalamnya. Dengan kata lain, kehadiran frasa alam semesta berhasil mewakili serangkaian fenomena dan bencana yang pernah/sedang dialami di lingkungan sekitar. Tentunya setiap pendengar memiliki interpretasi berbeda-beda, namun apa yang dibayangkan berada di bawah payung besar bersama: tragedi kesakitan alam.

*

 

Saya jadi teringat Hillary Bel, seorang penulis panggung, fiksi, radio, dan teater Australia. Dalam sebuah jurnal, putri pendiri Bell Shakespeare itu, pernah mengatakan bahwa karya seni haruslah mengunggah hati dan membuat apresiatornya tersadar. Dalam hal ini, “Naik-naik ke Puncak Gunung” dan “Lebam Semesta” dengan gaya masing-masing, mampu mempengaruhi kewarasan dan mewarning saya. Ya, saya adalah individu yang semestinya hidup berdampingan dengan makhluk lain. Atau, dalam pledoinya Ovick, berhenti mengeksploitasi dan mari bertanggungjawab.

Selain itu, sebagai lagu tentang alam, keduanya memang berhasil, sederhana dan mendalam. Baik bentuk lirik maupun komposisi nada mudah diterima. Jika kalian mulai lupa Bu Sud, mari cari dan putar kembali lagu-lagunya. Jika kalian belum mengenal Rozensky, mulai dari sekarang bisa stalking media sosialnya dan menjadi apresiator atas albumnya Kembali ke Selatan yang sudah rilis di platform-platform digital.

***

Fajar M. Fitrah

Vokalis Bob Anwar. Aktif juga menulis puisi dan esai. Tulisannya terpublikasikan di beberapa media cetak, di antaranya Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Indopos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Pustaka Kabanti Kendari, Majalah Hai, Majalah Sabili, dan lainnya, serta diterjemahkan ke Bahasa Korea dalam majalah Modern Poems. Beberapa puisinya sempat membawanya ke beberapa pertemuan sastra, baik mewakili Jawa Barat maupun Indonesia. Saat ini sedang merampungkan antologi puisi tunggalnya yang pertama, Pangkur.