KOMUJININA REV.png

Sudut Komuji

Sudut Komuji adalah rubrik literasi musik, berisi tulisan apresiasi (esai) atas lagu-lagu karya musisi tanah air. Terbit sekali seminggu. Semoga dapat memberi manfaat, baik dari segi informasi maupun edukasi. Selamat membaca! Silakan klik judul untuk membaca lebih lanjut. 

Alam ibu sud dan alam rozensky

oleh Fajar M. Fitrah

 

Dalam dunia musik, bukan hal baru ketika sebuah lagu mengadopsi material alam, baik sebagai gagasan, tema, maupun atribut lirik belaka. Itu karena lagu, umumnya bentuk karya, yang fungsinya tidak lepas dari unsur mimetik. Tiruan dari alam sekitar, citraan lingkungan dan society si pencipta, bahkan sebentuk cermin refleksi sekalipun utopis.

Schopenhauer, lantang dan didaktis, berpendapat bahwa seni musik adalah melodi yang syairnya berasal dari alam. Filsuf jerman itu memang tak semelodis nalar Amadeus atau intuisi Beethoven. Tapi yang menarik, ia menerapkan juga das Ding an sich pada penilaiannya terhadap seni musik, atau sebut saja, lagu yang baik.

Lagu yang baik, umumnya orang mengamini, adalah yang pesannya sampai. Pemilihan instrumen pas, komposisi nada bikin terngiang di ingatan, dan lirik yang mudah. Lirik mudah di sini, bisa dimaknai sebagai pemilihan tema kontekstual sehingga dekat untuk dibayangkan pendengar dan penggunaan gaya bahasa yang orisinal atau tak obskur.

Berangkat dari itu, lagu tentang alam, tentunya, punya kadar keberterimaan lebih tinggi dibanding lagu cinta dan perlawanan. Lagu tentang alam akan lebih ramai dihayati pendengar karena, seperti yang tersirat pada cetus Schopenhauer, pengetahuan manusia terbatas pada bidang dan fenomena yang nampak.

Pertanyaannya, di tengah lautan kuantitas lagu tentang alam, yang seperti apakah yang biasa muncul ke permukaan?