Search

Usefull Of Useless


Human unboxing ini adalah acara rutinan bulanan yang sudah berjalan kurang lebih dua tahun, membahas seputar manusia secara utuh dan siapa diri kita yang sejati. Disiarkan langsung di Instagaram @komuji_indonesia dan Youtube Komuji Indonesia, pembahasan kali ini berjudul Usefull of Useless dipandu oleh kang Firdaus, disampaikan oleh Ustadz Kuswandhai Yahdin dan dimeriahkan oleh penampilan music oleh satu satu music feat Witara (gloustic) pada hari Rabu, 07 April 2021.


Kajian ini membahas seputar sisi akal dan sisi jahil dalam diri manusia, memperdalam tentang dimensi apa saja yang terdapat dalam diri manusia atau dengan kata lain disebut struktur insan. Dalam bahasan inipun kita membongkar mana diri kita yang sejati dan mana diri kita yang palsu.


Saya yang sejati atau manusia itu secara khususnya oleh Allah diciptakan dengan tiga entitas yang berbeda atau tiga dimensi yang berbeda, yang pertama dari dimensi unsur ketuhanan atau unsur ilahiah yangn mana langsung ditiupkan oleh Allah SWT kepada makhluknya.


Secara potensial manusia itu memiliki unsur ilahiah atau unsur ketuhanan, unsur yang Allah ciptakan dari NYA diturunkan kedalam diri manusia dan itu mengapa ada sifat sifat ALLAH SWT dalam diri manusia.


“berakahklah engkau dengan akhlak Allah”


Tentu yang dimaksud adalah memiliki sifat-sifat yang datang dari ALLAH SWT, jadi kita bisa mengartikan bahwa semua kebaikan pada diri kita pasti datangnya dari yang maha baik, semua keburukan kita pasti datang dari diri kita yang buruk. Itulah yang disebut elemen atau dimensi ruhaniah.


Elemen kedua yaitu nafs pemahamannya sering menyatu dengan ruh karena dari hal yang sama gaib, dua duanya tampak secara kasat mata sehingga banyak yang mengartikan bahwa nafs dan ruh adalah hal yang sama, walaupun memang sama-sama tidak terlihat.

Nafs beberbeda dengan hawa nafsu, hawa nafsu artinya hawa dari nafs, yang disebut hawa adalah sesuatu yang mengelabuhi dan menenggelamkan. Hawa dapat menguasai nafsnya maka yang terjadi akan mempertuhankan hawa nafsunya.


Dimensia kemanusiaan itu ada dua yang pertama itu aspek batiniyah yang tidak terlihat yaitu elemen yang dibangun dari unsur cahaya sama seperti unsur malaikat yang diseput nafs, maka sifat nafs ini sama dengan sifat malaikat. Sama sama elemen cahaya, dan ruh tetaplah elemen yang berbeda, nafs dalam Bahasa inggris disebut soul dan kita menyebutnya dengan istilah jiwa.


Bercbicra jiwa ini akan sangat menarik karena jiwa sering dikaitka dngan perilaku seseorang seperti mentalitas atau kejiwaan dan ini cenderung bias, jiwa/nafs sebagai hakikat manusia. Allah menyebutkan dalam Al-Qur’an يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (QS. al-Fajr [89]: 27-28) yang artinya Allah telah menyematkan pada manusia jiwa dengan kesempurnaannya, kesejatiannya tentu hidup dalam keadaan mut’mainah kedamian ketenangan.


Sebaliknya ada Nafs lawammah بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (QS. Al-Qiyamah [75]: 1-2). Nafs dalam keadaan suka dan duka, bergelut berjuang mengendalikan dirinya, bisa menang bisa kalah. Ketika menang ada kebahagiaan ketika kalah ada kedukaan.


Yang terburuk adalah nafs amara bissuw i النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ (QS. Yusuf [12]: 53). Yang condong akan keburukan terus menerus, yaitu hawa dan syahwat yang merongrong jiwa sejati lumpuh sehingga ia jatuh dalam keburukan-keburukan.


Nafs merupakan sejatinya manusia bukan ruh. Ketika manusia meninggal dunia yang diambil oleh Allah adalah Ruhnya, maka yang akan melanjutkan perjalanan yang lebih nyata dari kehidupan dunia yaitu alam barzah dan pada saat itulah perjalanan sang jiwa atau nafs berlangsung. Selanjutnya yang akan masuk syurga atau neraka itu adalah nafs dengan dibangunkan jasadnya yang sudah hancur didalam dunia saat kiamat dan dibangunkan kembali sesuai dengan amal perbuatannya.


Satu elemen lagi aspek lahiriah yang dapat kita lihat wujudnya, dapat kita pandang, raba, dan merasakan kehadirannya yaitu badan atau dalam Bahasa arab disebut jasad.

Struktur insan sederhananya ada tiga yaitu ruh, jiwa, dan jasad. Yang menarik Agama diturunkan oleh Allah melalui Baginda Rasullah SAW mengajarkan dan menata manusia untuk mengenali mana elemn ruh, elemen jiwa dan jasad. Agama dapat menata sisi lahiriah yang disebut dengan ajaran Fiqh Syariah Lahir, dan Agama juga hadir dalam menata sisi batin sebagian menyebutnya akhlak, sebagian lagi menyebutnya tasawuf atau aspek mistisisme.


Yang menarik Allah menciptakan jiwa dan dengan ruhnya Allah SWT ditiupkan kepada jasad, kemudia jasad menjadi hidup sebagaiama tumbuhan yang ditiupkan ruh menjadi hidup, binatan ditiupkan ruh menjadi hidup. Allah menyematkan dan menghiaskan dalam diri manusia dua entitas lain. Entitas ini hidup dan berkembang dan dapat menguasai yaitu hawa dan syahwat, dan dua elemen tersebut akan menjadi tentara batin yang terkait dan menggoda kita dari aspek tentara jahil dan tentara akalnya yang disematkan dalam jiwa manusia.


سُبۡحٰنَ الَّذِىۡ خَلَقَ الۡاَزۡوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۡۢبِتُ الۡاَرۡضُ وَمِنۡ اَنۡفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُوۡنَ

“Mahasuci (Allah) yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaa Siin – surah 36 ayat 36)


Semuanya diciptakan secara berpasangan hitam dan putih, baik dan buruk, dan termasuk Allah menciptakan akal dengan balatentaranya dengan menguatkan posisi sang akal manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, pun iblis meminta izin kepada Allah untuk menghadirkan 75 pasukan kebodohan. Kemudia kita renungi dari antara pasuka akal dan pasuka kebodohan ini mana yang lebih dominan dalam diri kita. Saat kita membongkar diri itulah sejatinya diri kita.


Akal terdapat diantara jiwa dan jasad yang mengikat. Akal ini mengikat fikiran mengikat makna, mengikat sisi lahiriah dan sisi batinniyah. Kemudia munculah istilah ulil albab yaitu mereka yang sudah mampu memfungsikan akal lahirnya dan akal batinnya, maka dapat melihat kebenaran dan kebatilan.

3 views0 comments

Recent Posts

See All