Recvolution adalah salah satu program dari KOMUJI – Komunitas Musisi Mengaji, dengan tagline Your Music, Your Movement. Sebuah kegiatan yang bertujuan untuk memperkuat nilai inclusive  dikalangan anak muda (hijrah)bandung khususnya komunitas music indie, dengan  cara mempertemukan mereka dalam  wadah KOMUJI untuk  diajak melakukan aktivitas  kolaborasi kreatifitas  melaui sebuah metode penerapan simulasi    nilai  inklusivitas komuji  ( 5 nilai dasar   KOMUJI )  yang  akhirnya   mampu   berkarya menyuarakan nilai-nilai inklusif. Hal ini dilakukan  melalui sebuah pendekatan aktivitas kompetisi karya music  secara terintegrasi dimulai dengan tahap rekrutmen berupa event music talk untuk  memberikan informasi seputar potensi dunia musik, tahap pelatihan pembuatan lirik dan musik, tahap pembuatan karya yang  akan dinilai oleh juri, tahap final yang dirilis kedalam platform digital.

Mengapa ada Recvolution ?

 

Tumbuhnya bibit/potensi pengkultusan dan eksklusivitas pada anak muda Bandung berusia 18-30 tahun—terutama pada anak-anak muda Muslim yang punya ketertarikan mendalam mengenai agama Islam—mulai menjadi isu yang cukup serius saat ini. Ini dimulai dari tumbuhnya gerakan-gerakan hijrah di kalangan anak muda, yang diwakili oleh banyak komunitas anak muda di Bandung, seperti Pemuda Hijrah, Fun Ta'lim, dan Pemuda Istiqamah, menjadikan Bandung sebagai starting point bagi bibit-bibit gerakan Hijrah[1].

Gerakan Hijrah mengkampanyekan "kembali kepada Qur'an dan Sunnah", termasuk mengenai gaya hidup untuk laki-laki dan perempuan sesuai dengan nilai-nilai Syariah, dengan tema-tema dan kegiatan-kegiatan yang dekat dengan semangat kaum muda. Salah satu pendekatannya adalah melalui para ustadz dan ustadzah dengan gaya kekinian berbicara tentang isu-isu yang berkaitan dengan keseharian anak muda.

Pada implementasinya, gerakan Hijrah secara tidak langsung mengarah pada egoisme spiritual[2] dan mendorong pertumbuhan ekslusivitas di kalangan anak muda. Banyak kelompok anak muda yang sudah ikut gerakan hijrah menjadi cenderung intoleran, tidak terbuka, dan tidak menerima ajaran/paham/aliran Islam lainnya selain ajarannya. Fanatisme ini kemudian menjadi berlebihan, sehingga mereka menganggap orang-orang di luar kelompok mereka adalah ‘kafir’ dan/atau tidak Islami. Istilah ‘sahabat ‘till Jannah’ (sahabat menuju surga) kemudian muncul dan menjadi indikasi adanya tendensi di kalangan anak-anak muda hijrah untuk berteman hanya dengan orang-orang yang sepaham saja.

Di dunia permusikan, haramnya musik menjadi ramai diperbincangkan sejak tahun 2010-an dan menjadi trending topic di tahun 2015 dengan keluarnya dua personil band Pure Saturday, salah satu band indie pionir dari Bandung yang juga dikenal di skala nasional. Kedua personil tersebut menyatakan bahwa mereka meninggalkan musik untuk mendalami agama[3]. Di Bandung, banyak personil band ini yang akhirnya meninggalkan dunia musik untuk kemudian menjadi influencers mengkampanyekan hijrah dengan membawa tag "kembali kepada Qur'an dan Sunnah", yang secara implisit dan eksplisit menyatakan bahwa orang-orang yang sudah hirah (salah satunya diindikasikan dengan berpakaian sesuai Syariah dan meninggalkan musik) adalah orang-orang yang derajatnya lebih baik dari yang belum hijrah.

‘Pemaksaan’ atas nama da’wah pun sering terjadi di kalangan anak muda. Di dunia musik, gerakan ini juga cukup progresif. Tidak sedikit dari orang-orang yang masih bermusik itu mengalami intimidasi oleh mantan pemusik yang secara konsisten menyatakan dan mengintimidasi bahwa apa yang dia lakukan itu (bermusik) tidak benar secara agama.

Di kampus Universitas Pendidikan Indonesia Bandung (UPI), mahasiswa jurusan Seni Musik yang berpartisipasi dalam kegiatan KOMUJI beberapa kali mendapatkan intimidasi dari suatu kelompok yang menyatakan bahwa “musik itu haram”, dan bahwa mahasiswa tersebut “sudah sia-sia menimba ilmu di jurusan seni musik hanya karena akan membuatnya menjadi orang berdosa”.